Senin, 23 Januari 2017

   JAgamaku Bukan MitosJ
                                                                                                                                       Oleh: {LNR} J


  EPISODE: 1
 Sebuah kisah yang menguji keimanan kita, mungkin kita pikir semua hal yang terlihat baik dan mempunyai pangkat di dunia ini adalah yang pantas diikuti. Padahal, tak semua yang terlihat itu baik, apa kita pernah tau apa tujuan dan niatnya? Apalagi soal agama mereka yang berpangkat dan berilmu berkata ’ Jangan main-main soal agama!’ memang tidak main-main tapi, terkadang kita dipermainkan oleh tokoh yang ‘dianggap’ pemuka agama. Mungkin kita tak menyadari itu, inilah kisah sebuah Pesantren yang terletak di bukit Dhola kecamatan Dhola. Yang terkanal nama ‘Al- Mite’ (Mitos).
    Kisah ini di mulai saat penerimaan santri baru yang ingin mendalami agama.


Fatah (Santri baru):
Ustadz Ibri (Guru ngaji) :
Ustadzah Zila (guru ngaji):
Zahwa (Adik Zila):
H. Afwan (Pengasuh pesantren):
Hj. Suci (Istri H. Afwan):
Gus Khasan (Putra Hj. Suci):
Aufar (Pengurus PP):
Dayat (Pengurus PP):
Fahru (Teman Fatah):
Syifa (Pengurus PPI):
Yuli (Teman Zila):
Himma (Adik Khasan):
Setting: (Sebuah ruang pendaftaran santri terdapat 4 kursi yang masing-masing 2 lokal, antara putra dan putri)
Ustadz Ibri: ” Assalammualaikum kang! Sudah ada yang daftar?.”
Dayat & Aufar: ” Waalikumsalam ustadz.”
Aufar: “ Sudah, alhamdulilah!! Hanya menunggu ..”
Dayat: “ Nunggu apa lagi far?”
Aufar: ” Loh,, dari jam 6 sudah di sini. Ini jam dzuhur loh!!.”
Ustadz Ibri: ” Ohh jamaah?? Ya sudah sana gantian dulu”
Dayat: “ Tumben kamu tobat far? Biasanya ngaret.”
Aufar:  “ Wahh salah faham nih,, ya selain itu ustadz! Saya menunggu satu”
Ustadz Ibri: “ Apaan ee kang aufar, ya gantian sama saya saja kalau masih ada yang ketinggalan pengen daftar”
Dayat: “ Sudahlah ustadz, abaikan saja dia”
(Tapi Aufar clengekan sambil senyum, sementara pengurus putri yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya sepaneng melihatnya)
Aufar: “  Nunggu ,,,,,, emmm ,,,, konsumsi ustadz. Dari tadi perut saya mengheningkan cipta terus.”
(Ggeeeerrrrrrr,, sepontan semua pengurus yang di ruang itu tertawa, ustadz Ibri tergeleng-geleng melihat santri satunya itu. Pengurus putri lalu berbisik-bisik)
Syifa: “ Hhhhhh,,, aduhh sejak kapan pesantren ini punya santri kayak itu.”
Himma: “ Diakan emang gitu, nyeleneh.”
Zahwa: “ Jangankan ngelucu, kalok orang pengen cari anekdot liat aja dia, mukanyakan udah anekdot??.”
(Merekapun tertawa sambil ngelirik Aufar yang sedang jadi bahan bulian, sementara dengan wajah tanpa dosa merasa bahwa pengurus putri melihatnya Aufar tersenyum pada mereka, mereka tambah ketawa Aufar bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya)
Dayat: ” Ada apa far? Kog bingung?.”
Aufar: ” Akukan ibadah, aku senyumin mereka eh malah aketawa.”
Dayat: ” Coba aku liat wajah mu.” (Melihat wajah Aufar dengan teliti). “ Waduh bahaya far!!” (Wajah Dayat histeris, Aufar terkejut).
Aufar: ” Ada apa?? Wajahku kenapa??”
Dayat: ” Ada bulannya!!”
Aufar: ” Berapa?”
Dayat: “ Satu tapi besar banget, bentar lagi panen kamu, dua hari lagi!!”
(Tiba-tiba ustadz Ibri menjewer telinga Aufar)
Ustadz Ibri: ” Ini dia ibadah,, ayo sholat!!”
(Sambil mejewer telinga Aufar, ustadz membawanya masuk ke asrama dengan diikuti pengurus putra. Sedangkan pengurus putri tertawa terbahak-bahak , lalu kemudian membersihkan ruangan pendaftaran dibantu ustadzah Zila. Saat membersihkan ruangan datang seorang laki-laki dengan tergesa-gesa memasuki ruangan)
Fatah: ” Assalammualaikum,, maaf apa pendaftaran selesai?.”
Ustadzah Zila: ” Waalaikumsalam. Belum kang, silahkan masuk, isi formulir lalu serahkan pada ustadz Ibri, masuk saja di asrama putra! Aula satu biasanya beliau di sana.”
Fatah: ” Maaf apa saya tidak lancang??.”
Ustadzah zila: ” Tentu tidak! Di sini milik semua orang.”
Fatah: ” Oh terima kasih ustadzah, saya akan ke sana.”
( Ia pun keluar ruangan lalu mencari yang ia tuju).
Seting2: ( Halaman pondok putra, ia kebingungan mencari ustadz Ibris sampai kesana-kesini tanpa arah).
Khasan: ” Maaf kang? Santri baru ya? Cari siapa?.”
Fatah: ” Iya kang, maaf dimana ustadz Ibris?.”
Khasan: ” Ohh mari, kebetulan saya juga ingin bertemu dengan ustadz Ibris”
Fatah: ” Saya  Fatah dari Batangan.”
Khasan: ” Saya Khasan putra kiyai Afwan.”
Fatah: ” Ohh maaf Gus,, saya belum tahu.”
Khasan: ” Iya enggak apa-apa.”
 ( Mereka saling bercakap-cakap, sambil memperkenalkan pondok, Khasan juga menerangkan aturan di dalamnya. Di ruang lain (Aula satu putra) terlihat beberapa santri sedang duduk di emperan yang asyik berbicara).
Dayat: ” Gimana tadi telinga kesayanganmu far?.” (Sambil tertawa).
Aufar: ” Wahh cuma berwarna untungnya.” (Memegang telinganya).
Fahru: ” Haha,, kasihan juga kamu”. (Dengan membaca sebuah buku).
(Dari sisi kanan masuklah 2 orang tadi).
Khasan: ” Assalammualaikum kang, ustadz dimana?.”
(Mereka pun berdiri dan menunduk kepala).
Mereka: ” Waalaikumsalam gus.”
Fahru: ” Ustadz tadi dipanggil kiyai, ada keperluan sebentar.”
Khasan: ” Emm, ya sudah! Ini ada santri baru saya serahkan kepada kalian ya.”
( Mereka menganggukkan kepala, selesai bersalaman Khasan lalu keluar ruangan, mereka yang di ruangan lalu saling berkenalan).
Dayat: ” Jangan terkejut ya kang, di sini menjujung tinggi mitos.”
Fatah: ” Maksudnya kang?.”
Fahru: ” Ya nanti saya terangkan, mari ke asrama dulu.”
(Mereka lalu keluar ruangan itu dan menuju asrama).
Setting3:
(Sisi lain asrama putri salah satu bilik ruangan kamar, terdapat 4 tempat tidur berjajar rapi. 3 santri putri sedang khusyuk berdiskusi dengan gurunya di dalamnya semula hening. Lalu muncul suara)
Yuli: ” Terkadang saya bingung dengan aturan di siini, mengapa tidak boleh seperti ini, jawabnya selalu ‘ini leluhur’. Kitakan bukan lagi jaman hindu atau budha?.”
Himma: ” Terkadang saya juga sama ustadzah, tapi saya hanya diam karena ini aturan dari abah.”
Zahwa: ” Apa perlu yaaa kita membahas ini ustadzah??.”
Yuli: ” Iyaa saya juga tidak tahu, sudahlah.. toh mungkin ada hikmahnya di balik semua ini.”
Zahwa: ” Benar ustadzah kita perlu husnudzon, dan optimis.”
Himma: ” Apa tidak menyalahi ajaran islam?.”
Zahwa: ” Tanya saja sama kiyai, beliau abah si neng kan?.”
Himma: ” Tapi saya enggak berani.” (Katanya sambil tersenyum).
Yuli: ” Lalu dimana syifa?.”
Mereka: ” Astagfirullaaah!!!”
(Ternyata syifa bobog manis bersandar kitab dengan tanegnya. Di samping mereka, dilanjutkannya berdiskusi membiarkan Syifa tertidur).
(Muncullah ustadzah Zila mengetuk ruangan)
Ustadzah Zila: ” Assalammualikum, diumumkan, di halaman sekarang juga!”
(Yuli membuka pintu lalu masuklah ustadzah Zila)
Zahwa: ” Ada apa mbak? Tumben rada malem?”
Ustadzah Zila: ” Biasa ahh ritual mungkin,” (Melirik Syifa yang tersungkur).  “ Kenapa dia malah tewas??.”
Himma: ” Biasa ustadzah, kehusyukkan”
Yuli: ” Anak inikan emang kalok kekhusyukkan suka sampai baper,.”
Ustadzah Zila: ” Haha, mungkin lelah. Ayo segera ke halaman.”
(Mereka lalu menata kembali bukunya dengan rapi dan keluar dari ruangan.)
(Di halaman sudah tertata rapi santri putra yang lebih dulu duduk di halaman pesantren. Menunggu sang kiyai rawuh).
Fatah: “ Ada apa kang kita di sini? Cukup malem loh ini?.”
Dayat: “ Biasa kang tiap penerimaan santri baru,,,,.”
Fatah: “ ,,,,ooooh semacam MOBDIBA?”
Fahru: “ Bukan,, kita akan melakukan sepiritual kayak pembersihan dan penerimaan roh baru.”
Fatah: “ Kog seperti ini? Kita santri? Yang harusnya di ajari agama?”
Fahru: “ Memang harusnya begitu.”
Fatah: “ terus?? “
Dayat: “ Warisan leluhur pengasuh pesantren ini kang, turun temurun.”
(Tiba-tiba muncul Aufar yang baru datang nyempil  di gerombolan mereka”
Fatah: “ Kang Aufar kenapa tho? Datang langsung nyeruduk?”
Aufar: “ Husssstt,, telat gara-gara tadi sandalku kejebur selokkan.”
Fahru: “ Beli lagi tho kang.”
Aufar: “ Pengennya gitu, tapi apa dayaku membeli sepasang alas tak berdosa itu. Urung enek kiriman.”
Dayat: “ Syoook puitisss!! Maju dikit aa, sempit ini loh. Kasihan yang kecil.”
Fatah: “ Ciyyeeeh marasa kecil kang Dayat.”
Fahru: (Menyanyi sebuah lagu) “ Dan semenjak ada Aufar, kekurangan tempat,, semua terasa sempiit.” (Semua tertawa)
(Tapi Fatah merasa aneh dengan semua kegiatan di pondok itu. Masuklah santri putri di samping barisan putra dengan terhadang pembatas yang menjulang cukup tinggi. Datang pula sang kiyai memulai upacaranya. Sang kiyai menyebar bunga-bunga pada santrinya di susul air wangi)
Himma: “ Untung bedakku gak tebel-tebel.”
Syifa: “ Untungan aku, baru bangun tidur lalu ada cuci muka nyebar.”
Himma: “ Tadi kalok Zahwa enggak bangunin kamu juga terkelap dalam ilusi mungkin.”
Syifa: “ Haha, Zahwa enggak akan tega dong Him,.”
Himma: “ elehh tega kalok aku yang nyuruh,,.”
Zahwa: (Melirik mereka hanya tersenyum). “ Hayooo ngomongin aku yaa,?? Yang khusyuk upacaranya.”
Himma: “ Ntar kalau kekhusyukan gimana?”
Zahwa: “ Kita tinggalin aja yang baper di sini haha.”
Syifa: “ nyindir nih ceritanya?” (Tersenyum).
Zahwa: “ Siapa yang nyindir? Mana orangnya?”.  (Pura-pura tidak tahu)
(Mereka tertawa dan kembali khusyuk dalam doa yang di bacakan kiyai mereka. Entah sampai kapan mereka harus menjalani hal-hal mitos yang terlalu di percaya dalam sebuah ruang lingkup hidup pesantren itu. Tak seharusnya  mitos diamalkan).
(Selang berjalannya waktu Fatah bersama kawan-kawan menjalani banyak waktu dengan mengamalkan mitos yang mewajibkan  para santrinya untuk selalu mengamalkannya aneh tapi fakta menjawabnya)
(Fatah menuju sebuah ruangan yang di dalamnya sang kiyai bersama keluarga dan para guru)
Fatah: “ Assalammualaikum ,,.”
Kiyai: “ Waalaikumsalam kang, masuk!”
Fatah: “ Maaf Yai, saya lancang Yai, tapi saya ingin usul dan memberi masukkan penting.”
Kiyai: “ Oh ya silahkan tentu saja tidak apa.”
(Fatah merasa ewoh melirik sekitar yang tertuju padanya semua pandangan).
Ustadzah Zila: “ Ya sudah kiyai, kami mau kembali ke asrama, jam ngaji sore.”
Ustadz Ibri: “ Benar Kiyai, saya juga masih harus memberi materi kepada santri.”
Himma: “ Ustadzah saya juga ikut keasrama ya,.” (Bersalaman dengan Kiyai.) “ Assalammualaikum Abahh, Ummah”
Kiyai: “ Waalaikumsalam, Khasan kamu tidak ke asrama?”
Khasan: “ Nanti bah, bareng sama Fatah saja.”
Bu Nyai: “ Khasan,, ayo le. Ini penting kayaknya, tidak sopan”
(Mereka lalu keluar ruangan hanya Kiyai dan Fatah di dalam ruangan)
Kiyai: “ Ada apa tho lee.”
Fatah: “ Maaf kiyai mengapa tiap malam jumat kita harus berkumpul mengelilingi pohon besar serta menaburkan bunga tiap putarannya?”
Kiyai: “ Itu makam yang harus di hormati le, dan sakral. Barang siapa tidak melakukan itu maka bisa celaka dalam hidup dan pesantren ini.”
Fatah: “ Tapi itu hanya mitos, dan setiap mitos harus di amalkan di sini. Seharusnya kita Diba’an atau istighosah, bukan malah mitos yang berjalan di sini kesannya malah musyrik!! Maaf Kiyai.”
Kiyai: (Menganggukkan kepala lalu melihat Fatah). “ Anda santri baru di sini, jangan menyebarkan virus pemberontakkan di sini!”
Fatah: (Menundukkan kepala). “ Maaf Kiyai saya hanya meluruskan. Agama saya bukan mitos Kiyai dan tidak mistis!”
Kiyai: “ Ini adalah ritual turun temurun. Anda jangan coba-coba mengubahnya.”
Fatah: “ Kenapa tidak diubah menjadi yang lebih islami? Kenapa harus salah? Anda Kiyai yang dihormati dan beragama bukan? Anda contoh Kiyai!! Anda juga berilmu,,. Patutan kami,,,.”
Kiya: (Diam seolah ingin marah tapi juga malu). “ Anda santri yang berakhlaq bukan? Diajarkan tata kerama dan kesopanan? Lalu mengapa berani membantah?”
Fatah: “ Maaf Kiyai,,”.  (Berdiri lalu mundur beberapa langkah menuju pintu akan keluar)
Kiyai: “ Tunggu kang, anda harus berendam air bunga dengan tujuh sumber air. Nanti malam anda kesini agar ucapan anda yang berdosa itu suci.”
Fatah: (Menunduk dengan kecewa). “ maaf Kiyai saya lebih memilih ibadah saja dari pada mitos tak berujung itu.”
(Fatah keluar ruangan. Masuk istri Kiyai yang terlihat tahu masalah itu).
Bu Nyai: “ Ada apa tho Bah? Kog serius?”
Kiyai: “ Anak itu loh, pengen ngubah semua tradisi di sini,,!! Aneh-aneh wae anak jaman sekarang.”
Bu Nyai: “ Bukankah benar yang dikatakan santri itu? Kita beragama loh bah,,.”
Kiyai: (Menatap istrinya dengan tajam). “ Ummi jangan ikut-ikutan kayak gitu.”
Bu Nyai: “ Maaf Abah, saya hanya memberi usul. La taghdzob ya zaujah.”
Kiyai: “ Naam zaujati.”
(Lalu Kiyai beserta istrinya memasuki ruang lain).
(Susana menggambarkan pagi, terlihat 2 orang sedang di dalam ruangan yang disebut ruang guru).
Ustadzah Zila: “ Yul, kamu tahu tidak? Santri yang namanya Fatah?”
Yuli: “ Siapa eg Zil? Yang sering bareng sama Faliq?”
Ustadzah Zila: “ Ehh bukan Faliq, tapi Fahru.”
Ustadz Ibri: (Tiba-tiba nyahut). “ Oh, santri baru itu? Aku setuju sama Fatah.”
Ustadzah Zila: “ Jadi namanya Fatah tho,, berani juga ya.” (Melirik Yuli).
Ustadz Ibri: “ Aku juga aslinya mau gitu, tapi telat aja,,.” (Tersenyum melirik Zila).
Ustadzah Zila: “ Elehhh bilang aja enggak berani,,.” (Menatap ustadz Ibri, lalu menunduk).
Ustadz Ibri: “ Berani kok, Cuma telat aja.”
Yuli: (Menyanyi lagu ‘ada gajah di balik batu’ diikuti iringan lain). “ Eeee aa, ada yang lagi deketin Zila, eee aa Zila pura-pura gak tahu, eeee aa tiap hari nanyain Zila, eee aa udah makan udah mandi udahtidur udah udah nanya melulu. Teng10X
 *reff: Ada gajah dibalik batu, batunya hilang gajahnya datang. Aku tahu maksud dirinya, diam-diam suka padamu.”
Ustadzah Zila: “ Apa’an ee Yul? Tidak sopan tahu.”
Yuli: “ Elehh baper nih,, aku cuma heran aja sama kamu mau bicara,sama yang lain cuekke pol.
Ustadzah Zila: “ Hsssst, Yuli jangan gitu!! Ayo keasrama sekarang, maaf ustadz. Assalammualaikum.” (Menggandeng Yuli lalu keluar ruangan).
Ustadz Ibri: “ Waalaikumsalam.” (Menata buku lalu keluar ruangan).
(Di ruangan lain, bisa disebut kelas pembelajaran santri (putra) terlihat beberapa santri sedang asyik dengan arisannya masing-masing, hanya satu yang tengah menyumbangkan suara peraknya pasti kiata tahu siapa dia)
Aufar: (Menyanyi lagu wali ‘dik’). “ Dik aku pinta, kau akan slalu setia, dik aku mohon kau selalu menemani, saatku tengah terluka, kalaku tengah gundah. Ku akan menjagamu dibangun dan tidurmu disemua mimpi dan nyatamu, ku akan menjagamu tuk hidup dan matiku, tak ingin tak ingin kau rapuh,,.,” (penuh penghayatan).
Fahru: “ Iyaaa kakaaaaak, hahaha.”
Dayat: “ Welehh nyanyi buat siapa eg far??”
Fahru: “ Buat dedeknya leh kang,.”
Dayat: “ Haha Fahru kamu enggak tahu yaa? Emang ada yang mau sama Aufar?”
Aufar: “ Yaa ada, kalah rupo menang roso.”
Fahru: “ Widiiiiih, dalilnya telah munculll.”
(Lagu ‘cari jodoh’)
Dayat: “ Aku ya tahu kamu enggak modal rupa, takdir kamu kali yaa.”
Fatah: (Fatah yang sedang asyik baca tiba-tiba ingin nyambung). “ Jangan gitu kang Dayat, diam-diam kang Aufar punya banyak penggemar. Sebutan ‘THE GINUXS’,,.”
(Semua tertawa, masuk ustadz Ibri memulai maos kitab dengan penuh penghayatan. Setelah semua selesai pembelajaran hanya tinggal Fatah yang terlihat merenung di bangkunya. Semua keluar ruangan kecuali Fatah dan ustadz Ibri yang masih di dalam).
Ustadz Ibri: “ Kamu kenapa? Kang?.”
Fatah: “ Ustadz?? Bagaimana kalau kita membuat perubahan secara perlahan dalam pesantren? Bukankah lebih baik kita membenarkan ajaran yang salah menjadi ke lebih baik? Kita beragama, bukan mitos sebagai amalan?”
Ustadz Ibri: “ Aku juga berfikir seperti itu, tapi pasti kita yang dikira sesat. Apa lagi Kiyai? Pasti lebih menentang?”
Fatah: (Berdiri lalu terlihat berfikir). “ Aku juga bingung ustadz. Bagaimana kalau kita melakukan ini secara diam-diam? Tanpa harus sesuai Kiyai, teman-teman juga banyak yang ingin seperti itu. Perubahan kebenaran.”
(Mereka lalu menjalankan banyak hal di pondok. Merubah kebiasaan mitos yang ada secara bertahab hingga akhirnya harus terungkap di hadapan kiyai).
(Masa introgasi, di sebuah ruangan di dalam sudah ada semua orang yang terlibat pada misi rahasia itu, terkecuali Fatah. Wajah sang Kiyai terlihat begitu kecewa).
Kiyai: “ Kamu semua ini adalah orang-orang yang berbudi, dan taat akan pada aturan. Tapi mengapaaa?? Mengapa berdusta pada kepercayaan?.” (wajah muram).
Bu Nyai: “ Maaf Abah, kami hanya mengikuti amalan islam. Apa salahnya?.”
Kiyai: “ Ummi! Mengapa Ummi juga terkecoh omongan mereka? Amalkan apa yang ada! Itu sudah warisan, boleh amalkan islam tapi bukan pula tinggalkan ajaran leluhur!”
Himma: “ Abahh! Tapi mengapa musyrik kesannya? Itu mungkin masa yang dulu belum mengetahui perbedaan oleh kakek buyut?.”
Khasan: “ Aku tahu Abah ingin menjaga semua adat yang ada di dalam pesantren, tapi Khasan sadar. Abah hanya terlalu takut meninggalkan semua mitos, dan bila meninggalkan akan jadi nyata semua yang buruk.”
Himma: “ Karena terlalu percaya, Abah jadi takut kena buruknyaa,.”
Kiyai: “ Ajaran siapa kalian? Berani durhaka dengan orang tua? Ummi juga, seharusnya istri taat pada suaminya. Kalian juga, mengapa harus neko-neko. Jika tidak suka, ya mudah saja,, tinggalkan pesantren! Simpelkan? Panggilkan Fatah!.”
(Lalu Aufar keluar dari ruangan itu mencari Fatah disetiap sudut ruangan, ia bertanya pada setiap santri yang ia temui. Dia bingung karena takut masih ada pada batinnya.)
Aufar: “ Kang, Fatah di mana?”
Santri 1: “ Wah kurang tahu saya.”
Aufar: (Berjalan mencari kembali bertanya kembali kepada santri lain). “ Fatah dimana ya Kang?.”
Santri 2 : “ Ooooh, di kantin tadi.”
Aufar: “ Yaaa makasih kang.” (Aufar bergegas menuju ruangan lain (kantin) dan mencari Fatah).
Aufar: “ Fatah!!! Fatah!!.”
Fatah: “ Iya kang Auf,, ada apa?.”
Aufar: (Terlihat gugup, takut bercampur bingung, hanya menunjuk arah yang tidak jelas). “ Ituu, anuuu ituu looh,,.”
Fatah: “ Anu apa?? Ada apa?.”
Aufar: “ Iiiituu,, aa,,aanuuu aduh,,”
Fatah: “ Duduk Kang, ada apa coba cerita,,.”
Aufar: “ Itu lohh, iiiiiihh susah ya ngomong sama kamuuu.”
Fatah: “ Lohh kang Aufar belum ngomong apa-apa kog.”
Aufar: “ Ohh seperti itu yaa, tolong air putih, krupuk,, krupuk,, ehhh ehhh, nasi uduk satu juga ya.”
Fatah: “ Kang Aufar mau cerita apa mau makan eg?.”
Aufar: “ Kalau belum makan saya tidak bisa berpikir.”
(Fatah menyuguhkan semua pesanan yang dituju Aufar. Aufar terlihat benar-benar kebingungan. Setelah makan Fatah hanya tercengang dan sabar menanti habisnya nasi Aufar.)
Aufar: “ Alhamdulillah,, jadi begini Kang. Kiyai memanggil anda.”
Fatah: (menepuk jidad). “ Subhanallah, mengapa tidak bilang dari tadi? Kalau ditunggu Kiyai bagaimana?.”
Aufar: “ Saya tadi sudah bilang loh, kalau saya belum bisa berpikir kalau belum makan.”
(Fatah terlihat gemas dengan teman satunya itu. Mereka bergegas menuju ruangan lain. Di dalam keadaan hening dan nampak tercengang. Mereka tidak berani memasukinya, malah saling dorong-mendorong)
Khasan: (Tiba-tiba muncul di belakang mereka. Menepuk pundak Fatah). “ Woooy!!.”
Fatah & Aufar: (Berpelukan karena terkejut). “ Masyaallah,,,.” (Menoleh, mengelus dada).
Khasan: “ Saya cari tadiii, ayo masuk.”
(Mereka masuk ruangan).
Kiyai: “ Hei kamu Fatah!! Apa maksud anda?.”
Fatah: “ Maaf kiyai, langsung saja. Bukannya saya sesat atau apa. Saya hanya meluruskan suatu yang dianggap janggal, bukan niat kami atau saya menghilangakan tradisi ataupun lainya Kiyai,,.”
Kiyai: “ Bila anda ingin keluar dari pesantren silahkan, tapi jangan menggores nama Al-Mite. Anda benci dengan pesantren ini? Apa pesantren ini punya salah dengan anda? Pohon besar melihat semuanya. Anda jangan macam-macam, mau celaka anda?.”
Himma: “ Abaaah,,, abah jangan terlalu percaya,,. Itu omong kosong.”
Ustadz Ibri: “ Benar Kiyai, Fatah benar. Ini semua tak ada dalam al-quran maupun hadist, hanya omong kosong,,,,.”
Ustadzah Zila: “,,,, dan ketakutan masa lalu.”
Zahwa: “ Itu bukan sejarah, Kiyai. Hanya mitos bukan nyata.”
Kiyai: “ Cukuuuup!!! Apa arti semua ini? Sandiwara apa haaa? Kalian dosa!!.”
Bu Nyai: “ Maaf Abahh, ini bukan sandiwara.”
Kiyai: “ Kerasukan apa kalian? Fatah!! Mantera apa yang kamu beri pada semua orang?”
Fahru: “ Kiyai,, maaf kami sadar, kami bukan kerasukan. Tapi kami telah dibukakan hidayah oleh Allah.”
Zahwa: “ Lebih dosa lagi bila diam dalam kesalahan terdalam.”
Fatah: “ Apa Kiyai lupa? Kita beriman (membacakan surat Al Ikhlas), ‘Allahushomad’ ‘Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu’.”
Kiyai: (Tiba-tiba terdiam, redup seketika amarah Kiyai). “ Astaghfirullah,, Astahhfirullah,,.” (Terlihat lemas lalu dudduk.)
(Semua orang di persilahkan untuk pergi dari ruangan. Hanya Kiyai yang sedang merenung, terlihat bingung dan menyadari semuanya. Bahwa, Allah hanya tempat bergantung. Semenjak salah satu ayat al quran dibacakan oleh Fatah beserta artinya Kiyai mulai belajar dan mendalami makna-makna al quran di bantu Fatah.)
(Berjalannya waktu, kegiatan di dalam pesantren berubah drastis, lebih keagamaan yang ada.)
(Dalam ruang tidur Kiyai bersama istrinya).
Kiyai: “ Ummi’,, maafkan semua kesalahan Abah yaa. Selama ini Abah yang salah mengerti semuanya. Abah berdosa, maafin Abah.” (mencium tangan istrinya).
Bu Nyai: (terharu, meneteskan air mata). “ Seperti apapun Abah, Abah tetap suamiku. Ummi’ akan terus selalu ada dan bila Abah salah melangkah, Ummi’ yang akan meluruskannya.”
Kiyai: “ Abah punya hadiah untuk Ummi’.” (menyanyi Zaujati).
(Semua berjalan dengan indah dan seru di pesantren itu, sekarang namanyapun di ubah menjadi ‘Jannah’ atau surga.)
(Di emper pondok putra, berkumpul para santri sedang bersantai di sana.)
Dayat: “ Subhanallah, benar-benar syurgaa yang indah. Ini baru pesantren.”
Fahru: “ Kereeen,,,. Sip dah.”
(Gus Khasan datang dari arah samping)
Khasan: “ Asssalammualaikum ya Brother, eeh Fatah ikut kerumah yuk. Di panggil Abah.”
Aufar: “ Makan-makan ya Gus?? Ikuttan aaa.”
Mereka: “ Makaaan teruus!!”
(Fatah dan Khasan lalu berjalan menuju rumah Kiyai, mengucap salam lalu masuk. Di persilahkan duduk. Fatah bingung karena ada orang tuanya juga di sana juga bu Nyai beserta anak beliau).
Kiyai: “ Langsung saja,, ada hal penting untukmu. Kiyai ingin menjodohkanmu dengan anak saya, bagaimana?”
Fatah: “ Maaf Kiyai, dengan gus Khasan?.”
Kiyai: “ Ya bukan tho Kang, dengan Himma.”
(Fatah tersenyum melirik Himma yang tersipu malu, lalu menggukkan kepala.)
Khasan: “ Ciyyeeee adik ipar, hahaha, cocok dehh.”
Inilah kisahnya yang penuh ketegangan berseling humor. Ada banyak sekali pelajaran yang bisa kita raih dan penuh makna. Bagaimana masih kuatkah iman kalian? Jangan sampai kalah dengan mitos. Sekian dari kami kelompok satu. Persembahan untuk kelas X BAHASA 2. ‘MAN JADDA WA JADA’.

Karakter:
Fatah: Alim, sabar, pandai. Cuek-cuek tapi suka lirik dikit gituu.
Ustadz Ibri: Asyik, mudah akrab dengan semua orang, cuek. Kecuali dengan Ustadzah Zila.
Ustadzah Zila: Cantik, pemalu, solihah. Perfect.
Zahwa: Pendiam tapi percaya dirinya tinggi. Gokilnya jarang-jarang.
H. Afwan: Keras, sulit mendapat masukkan, mudah marah. Tapi sangat romantis dengan istrinya.
Hj. Suci: Penyabar, baik, murah senyum. Selalu taat pada suami.
Gus Khasan: Mudah senyum, cuek, tapi seru bila bercanda.
Himma: Solihah, baik , lemah lembut. Kurang suka bercanda.
Yuli: Suka yang humor tapi seriusan orangnya, mudah baper.
Syifa: Suka tidur, lucu, pendiam.
Fahru: Pandai, cueknya gokil, suka baca buku.
Dayat: Usil, selalu serasi bila bercanda di oplos dengan Aufar.

Aufar: Lucunya kebangetan, bikin geregetan.